Tempe selama ini identik dengan makanan sederhana yang mudah dijumpai di berbagai daerah di Indonesia. Harganya terjangkau dan menjadi sumber protein utama bagi banyak keluarga. Namun, di balik kesederhanaannya, tempe kini mulai mendapat perhatian serius dari kalangan peneliti karena potensi manfaatnya bagi kesehatan otak.
Laporan yang dipublikasikan oleh detikHealth mengungkap bahwa tempe tidak hanya kaya nutrisi, tetapi juga memiliki kandungan bioaktif hasil fermentasi yang berpotensi mendukung fungsi kognitif.
Konsumsi Tempe Dikaitkan dengan Memori Lebih Baik
Sejumlah penelitian menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi tempe dan peningkatan fungsi kognitif, terutama pada kelompok lanjut usia. Salah satu studi yang dimuat dalam jurnal Dementia and Geriatric Cognitive Disorders menemukan bahwa lansia yang rutin mengonsumsi tempe memiliki performa memori yang lebih baik dibandingkan mereka yang jarang mengonsumsinya.
Temuan ini diperkuat oleh studi intervensi yang dipublikasikan dalam Frontiers in Nutrition. Penelitian tersebut melaporkan peningkatan skor kognitif sekitar 1 hingga 2 poin setelah konsumsi tempe dalam periode tertentu. Peningkatan ini terutama terlihat pada kemampuan mengingat.
Secara alami, fungsi kognitif manusia memang mengalami penurunan seiring bertambahnya usia. Studi dalam Journal of the American Geriatrics Society mencatat bahwa penurunan skor kognitif pada lansia sehat berkisar antara 0,1 hingga 0,3 poin per tahun. Pada kondisi gangguan kognitif ringan, penurunannya bisa mencapai 1 hingga 2 poin per tahun.
Dalam konteks tersebut, peningkatan skor kognitif yang dikaitkan dengan konsumsi tempe menjadi temuan yang menarik. Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa hasil ini masih terbatas pada jangka pendek.
Kandungan Gizi Tempe Jadi Kunci
Tempe memiliki komposisi gizi yang lengkap. Dalam 100 gram tempe, terdapat sekitar 18 hingga 20 gram protein, 10 hingga 11 gram lemak, serta 7 hingga 9 gram karbohidrat. Selain itu, tempe juga mengandung folat yang berperan penting dalam fungsi sel saraf.
Keunggulan lain tempe berasal dari proses fermentasi. Proses ini menghasilkan vitamin B12 dalam jumlah kecil, yang jarang ditemukan dalam sumber nabati. Vitamin B12 berperan dalam menjaga sistem saraf dan mendukung fungsi kognitif.
Selain itu, tempe mengandung isoflavon, yaitu senyawa antioksidan dari kedelai. Kandungan isoflavon pada tempe berkisar antara 30 hingga 60 mg per 100 gram. Senyawa ini diketahui memiliki efek perlindungan terhadap sel saraf dan berpotensi mendukung fungsi memori.
Fermentasi juga membuat nutrisi dalam tempe lebih mudah diserap tubuh. Selain itu, tempe mengandung mikroorganisme yang dapat mendukung kesehatan usus.
Kesehatan usus sendiri memiliki kaitan erat dengan fungsi otak melalui mekanisme gut-brain axis. Keseimbangan mikrobiota usus dapat memengaruhi fungsi kognitif melalui berbagai jalur biologis.
Potensi terhadap Alzheimer Masih Dikaji
Penelitian juga mulai mengkaji peran tempe dalam kaitannya dengan penyakit Alzheimer. Studi dalam Journal of Ethnic Foods menunjukkan bahwa ekstrak tempe dapat menurunkan ekspresi gen yang terkait dengan Alzheimer, seperti PSEN1, Gsk3b, cdk5, dan TNF.
Gen-gen tersebut berperan dalam pembentukan plak beta-amyloid, peradangan otak, serta kerusakan sel saraf. Selain itu, tempe juga menunjukkan aktivitas anti-asetilkolinesterase, yaitu mekanisme yang membantu menjaga kadar neurotransmiter asetilkolin yang penting untuk memori.
Tempe juga memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi yang dapat membantu mengurangi stres oksidatif dan peradangan, dua faktor yang berkontribusi dalam perkembangan penyakit neurodegeneratif.
Namun, sebagian besar penelitian ini masih dilakukan pada tingkat laboratorium. Artinya, efeknya pada manusia masih perlu dibuktikan melalui penelitian lebih lanjut.
Perlu Dikonsumsi sebagai Bagian Pola Hidup Sehat
Para ahli menegaskan bahwa tempe bukanlah solusi tunggal untuk menjaga kesehatan otak. Konsumsi tempe tetap harus diimbangi dengan pola makan seimbang, aktivitas fisik, serta gaya hidup sehat.
Tempe dapat menjadi pilihan sumber protein nabati yang bernilai gizi tinggi dan mudah diakses. Namun, klaim sebagai pencegah Alzheimer masih memerlukan bukti ilmiah yang lebih kuat.
Dengan berbagai temuan yang ada, tempe menunjukkan potensi sebagai makanan yang dapat mendukung kesehatan otak. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memastikan manfaatnya dalam jangka panjang.
Sumber: detikHealth
