Di tengah derasnya arus informasi digital, banyak orang kini terbiasa membuka media sosial hampir tanpa jeda. Bangun tidur melihat berita. Saat makan membuka video pendek. Sebelum tidur kembali menggulir timeline selama berjam-jam. Aktivitas ini terlihat biasa, namun para ahli mulai menyoroti satu pola yang dianggap semakin berbahaya, yakni doomscrolling.
Doomscrolling adalah kebiasaan mengonsumsi konten negatif secara terus-menerus melalui internet, terutama media sosial dan platform berita digital. Pengguna biasanya terus menggulir layar untuk membaca kabar buruk, konflik, bencana, krisis ekonomi, hingga komentar negatif tanpa sadar sudah menghabiskan waktu panjang di depan layar.
Fenomena ini semakin sering terjadi sejak era pandemi dan kini berkembang menjadi bagian dari kebiasaan harian banyak orang, terutama generasi muda. Masalahnya, berbagai penelitian terbaru mulai menunjukkan bahwa doomscrolling bukan sekadar kebiasaan iseng, melainkan dapat berdampak nyata terhadap kesehatan mental dan kualitas hidup.
Laporan terbaru dari Wellbeing Research Centre di University of Oxford menemukan adanya hubungan antara penggunaan media sosial berlebihan dengan penurunan kesejahteraan hidup atau wellbeing. Peneliti Michael Plant menyebut media sosial sebenarnya masih memiliki manfaat ketika digunakan secara wajar dan terkontrol. Namun semakin lama seseorang menghabiskan waktu di media sosial, semakin besar pula risiko penurunan kesejahteraan mental.
Penurunan wellbeing ini terlihat cukup signifikan pada kelompok usia muda di bawah 25 tahun di sejumlah negara Barat seperti Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Australia. Dalam satu dekade terakhir, kelompok usia tersebut mengalami penurunan tingkat kebahagiaan bersamaan dengan meningkatnya penggunaan media sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Kondisi ini dinilai bukan kebetulan. Para ahli melihat platform digital modern memang dirancang untuk membuat pengguna terus bertahan lebih lama di dalam aplikasi. Algoritma media sosial bekerja dengan mempelajari kebiasaan pengguna, lalu terus menyajikan konten yang dianggap paling menarik perhatian, termasuk berita negatif dan konten emosional.
Secara psikologis, otak manusia memang lebih mudah tertarik pada informasi buruk dibanding informasi positif. Dalam dunia psikologi, kondisi ini dikenal sebagai negativity bias. Otak menganggap ancaman sebagai sesuatu yang penting dipantau demi keselamatan, sehingga berita negatif terasa lebih “menarik” untuk terus diikuti.
Masalah muncul ketika konsumsi informasi negatif berlangsung tanpa batas. Banyak orang awalnya hanya ingin mencari kabar terbaru, tetapi akhirnya terjebak dalam siklus scrolling panjang yang memicu kecemasan dan kelelahan mental.
Para peneliti menemukan doomscrolling berkaitan dengan meningkatnya stres, kecemasan, rasa putus asa, hingga gangguan tidur. Paparan konten negatif secara terus-menerus membuat otak sulit beristirahat karena tubuh terus berada dalam kondisi siaga.
Dampaknya tidak hanya terasa secara emosional, tetapi juga fisik. Beberapa ahli kesehatan menyebut kebiasaan doomscrolling dapat memicu sakit kepala, ketegangan otot, kelelahan mata, nyeri leher, hingga peningkatan hormon stres dalam tubuh.
Gangguan tidur menjadi salah satu efek paling umum. Banyak pengguna media sosial terbiasa menggulir layar sebelum tidur dengan alasan hanya “sebentar”. Namun tanpa disadari, aktivitas itu bisa berlangsung lebih dari satu jam karena pengguna terus terpancing membuka konten berikutnya.
Paparan cahaya layar pada malam hari juga mengganggu ritme alami tubuh. Otak menjadi lebih aktif sehingga seseorang lebih sulit tidur nyenyak. Dalam jangka panjang, kurang tidur dapat memengaruhi konsentrasi, produktivitas, suasana hati, hingga kesehatan fisik secara keseluruhan.
Fenomena ini semakin kuat pada generasi muda yang tumbuh bersama media sosial sejak usia dini. Banyak anak muda kini menjadikan scrolling sebagai aktivitas otomatis ketika merasa bosan, cemas, atau lelah. Akibatnya, media sosial tidak lagi dipakai sekadar alat komunikasi, tetapi berubah menjadi pelarian emosional.
Profesor psikologi dari University of Reading, Netta Weinstein, membedakan penggunaan teknologi menjadi dua pola, yaitu harmonis dan kompulsif. Penggunaan harmonis terjadi ketika seseorang memakai teknologi secara sadar dan tetap merasa memiliki kontrol. Sebaliknya, penggunaan kompulsif terjadi ketika seseorang merasa sulit berhenti atau menggunakan media sosial untuk menghindari masalah dalam kehidupan nyata.
Perbedaan ini menjadi penting karena tidak semua screen time dianggap buruk. Para ahli menilai aktivitas digital seperti belajar keterampilan baru, video call dengan keluarga, membaca materi edukasi, atau bermain game bersama teman masih dapat memberi manfaat sosial dan emosional.
Yang menjadi masalah adalah penggunaan media sosial tanpa tujuan jelas. Banyak orang membuka aplikasi hanya untuk “menghabiskan waktu”, lalu tanpa sadar tenggelam dalam arus konten negatif selama berjam-jam.
Kebiasaan tersebut perlahan memengaruhi cara seseorang memandang hidup. Terlalu sering melihat pencapaian orang lain, berita buruk, dan konflik sosial dapat memicu rasa tidak puas terhadap diri sendiri. Pengguna akhirnya lebih mudah merasa cemas, iri, lelah, bahkan kehilangan motivasi.
Para ahli kini menyarankan masyarakat mulai lebih sadar terhadap pola konsumsi digital mereka sehari-hari. Media sosial tidak harus ditinggalkan sepenuhnya, namun pengguna perlu memiliki batasan yang sehat.
Beberapa langkah sederhana dinilai cukup membantu, seperti membatasi waktu media sosial, menghindari scrolling sebelum tidur, mematikan notifikasi yang tidak penting, hingga memperbanyak interaksi langsung di dunia nyata.
Aktivitas digital yang lebih positif juga mulai dianjurkan, seperti membaca materi edukasi, belajar kemampuan baru, membuat karya kreatif, atau menggunakan teknologi untuk mempererat hubungan sosial secara sehat.
Di tengah kehidupan modern yang semakin terkoneksi, kemampuan mengendalikan konsumsi informasi kini menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan mental. Sebab tidak semua hal di internet perlu diikuti setiap saat, terutama jika akhirnya hanya membuat pikiran dipenuhi rasa cemas dan kelelahan tanpa henti.
