Kebiasaan menggunakan second account di media sosial selama ini dianggap sebagai cara aman untuk mengekspresikan diri tanpa diketahui orang lain. Banyak pengguna, terutama dari kalangan Generasi Z, membuat akun kedua di platform seperti Instagram, TikTok, atau X untuk berbagi cerita pribadi, mengunggah meme, hingga menyampaikan keluhan sehari hari.
Akun tersebut biasanya dibuat tanpa nama asli, menggunakan foto profil anonim, dan hanya diikuti oleh lingkaran pertemanan terbatas. Namun perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini mulai menantang konsep anonimitas tersebut.
Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa teknologi AI modern mampu menelusuri jejak digital pengguna dan mencocokkan akun anonim dengan identitas asli pemiliknya.
AI membaca pola dari jejak digital
Penelitian yang dilakukan oleh sejumlah ilmuwan kecerdasan buatan menunjukkan bahwa sistem Large Language Models (LLM) memiliki kemampuan menganalisis berbagai potongan informasi yang tersebar di internet.
Teknologi ini tidak hanya membaca teks, tetapi juga memahami konteks dari berbagai unggahan pengguna di media sosial. AI kemudian membandingkan data tersebut dengan informasi lain yang tersedia secara publik di internet.
Proses ini memungkinkan AI menyusun profil digital seseorang dari berbagai potongan informasi kecil.
Sebagai contoh, seorang pengguna mungkin mengeluh di akun anonim tentang ujian kuliah yang sulit. Di unggahan lain, ia menyebut nama hewan peliharaannya atau mengunggah foto dari sebuah tempat nongkrong tertentu.
Informasi yang terlihat sepele ini bisa menjadi petunjuk penting bagi sistem AI. Dengan menelusuri platform lain yang memuat detail serupa, AI dapat memperkirakan identitas pemilik akun anonim tersebut.
Para peneliti menjelaskan bahwa kemampuan ini muncul karena AI mampu menghubungkan berbagai data yang sebelumnya tersebar dan tidak terlihat berkaitan.
Ancaman bagi privasi pengguna internet
Kemampuan AI untuk mengungkap identitas anonim memunculkan kekhawatiran baru terkait keamanan digital.
Salah satu risiko yang paling sering dibahas adalah doxing, yaitu praktik mengungkap identitas pribadi seseorang secara publik tanpa persetujuan. Jika identitas pemilik akun anonim berhasil ditemukan, konten yang sebelumnya dianggap aman bisa langsung dikaitkan dengan identitas asli pengguna.
Hal ini dapat menimbulkan konflik sosial, perundungan di dunia maya, hingga dampak terhadap reputasi seseorang di dunia nyata.
Selain itu, para peneliti juga mengingatkan potensi meningkatnya penipuan siber yang sangat personal. Dengan bantuan AI, pelaku kejahatan digital dapat mengumpulkan berbagai informasi kecil tentang korban dari internet.
Data tersebut kemudian digunakan untuk membuat pesan penipuan yang terlihat sangat meyakinkan.
Dalam beberapa kasus, penipu dapat menyamar sebagai teman, rekan kerja, atau orang yang dikenal korban. Karena pesan yang dikirim terlihat sangat personal, korban sering kali tidak menyadari bahwa mereka sedang menjadi target penipuan.
AI juga bisa salah menebak
Meski teknologi ini terlihat sangat kuat, para pakar komputer mengingatkan bahwa AI masih memiliki banyak keterbatasan.
Salah satu masalah utama adalah kemungkinan terjadinya kesalahan identifikasi. Sistem AI dapat saja mencocokkan dua akun yang sebenarnya dimiliki oleh orang yang berbeda hanya karena memiliki kesamaan pola perilaku di internet.
Misalnya, dua pengguna yang sama sama menyukai band tertentu, sering membicarakan topik yang mirip, atau mengunjungi tempat yang sama bisa dianggap sebagai orang yang sama oleh sistem AI.
Kesalahan seperti ini berpotensi menimbulkan tuduhan yang tidak benar terhadap seseorang.
Para ahli menyebut fenomena ini sebagai salah satu bentuk “halusinasi AI”, yaitu kondisi ketika sistem menghasilkan kesimpulan yang tampak meyakinkan tetapi sebenarnya tidak sepenuhnya akurat.
Media sosial didorong perketat perlindungan data
Para peneliti menilai bahwa platform media sosial perlu mengambil langkah lebih serius untuk melindungi privasi pengguna.
Salah satu cara yang disarankan adalah membatasi aktivitas pengumpulan data otomatis oleh bot atau program scraping. Teknologi ini sering digunakan untuk mengunduh data dalam jumlah besar dari internet.
Dengan membatasi akses semacam ini, perusahaan teknologi dapat mengurangi kemungkinan data pengguna dianalisis secara massal oleh pihak luar.
Namun para ahli juga menegaskan bahwa perlindungan privasi tidak hanya bergantung pada perusahaan teknologi.
Pengguna internet juga perlu lebih berhati hati dalam membagikan informasi pribadi secara online. Detail kecil seperti tempat nongkrong favorit, nama hewan peliharaan, atau kebiasaan sehari hari dapat menjadi petunjuk yang membantu AI menghubungkan berbagai akun yang dimiliki seseorang.
Perkembangan AI menunjukkan bahwa batas antara identitas publik dan anonim di dunia digital semakin tipis. Dalam situasi seperti ini, kesadaran terhadap jejak digital menjadi semakin penting bagi siapa pun yang aktif menggunakan media sosial.
