Polemik yang memanas, Betrand merasa jadi pihak yang terdampak
Betrand Peto muncul dengan pernyataan yang terdengar emosional namun terarah. Ia ikut angkat suara setelah muncul polemik keluarga yang membahas perpindahan keyakinan Ruben Onsu.
Betrand menuturkan bahwa isu itu tidak berhenti di ruang publik. Ia juga sampai masuk ke kehidupan anak-anak, termasuk dirinya dan adik-adiknya.
Ia menyebut ada masa ketika ia dan saudara-saudaranya mendapat pandangan negatif, terutama terkait keputusan Ruben menjadi mualaf.
Betrand tidak menuliskan detail panjang, tapi intinya jelas: ia tidak ingin anak-anak dijadikan objek dalam konflik keyakinan orang dewasa.
“Jangan minta kami stres”—Betrand meminta orang dewasa berpikir
Dalam unggahan Instagram Story, Betrand menyampaikan kalimat permintaan yang tegas. Ia menolak ketika ada pihak yang seolah meminta mereka untuk merasa stres karena ayah pindah keyakinan.
Betrand menilai seharusnya orang dewasa mengajarkan toleransi, bukan menyuruh anak-anak memendam beban emosional.
Menurut Betrand, toleransi itu perlu, terutama karena ia masih anak-anak dan adik-adiknya juga masih dalam fase pertumbuhan.
Kalau yang diajarkan justru prasangka, anak-anak bisa salah menangkap makna toleransi itu sendiri.
Ada cerita bahwa keyakinan baru Ruben dipandang buruk
Betrand mengaku pernah menerima pemahaman bahwa keyakinan baru Ruben merupakan sesuatu yang tidak baik. Ia menyampaikan bahwa pemahaman itu berasal dari keluarga Sarwendah.
Dengan kata lain, Betrand merasa ada satu narasi yang lebih dulu ditanamkan ketika ia berada di lingkungan tersebut.
Ia tidak merinci kapan tepatnya, tetapi cukup jelas bahwa ada masa tertentu yang membuatnya menganggap keyakinan ayahnya membawa hal buruk.
Betrand seolah ingin mengatakan: kami yang masih kecil tidak seharusnya menerima penilaian sepihak seperti itu.
Setelah tinggal kembali bersama Ruben, persepsi Betrand berubah
Saat Betrand kembali tinggal bersama Ruben, ia menyatakan pandangannya berbalik. Ia menilai apa yang dulu diucapkan kepadanya ternyata tidak sesuai dengan yang ia rasakan sendiri.
Betrand mengatakan bahwa keyakinan ayahnya tidak lagi tampak seperti “tidak baik pengartiannya”. Yang ia terima justru berbeda dan jauh lebih menenangkan.
Ia ingin publik memahami bahwa pemahaman anak bisa berubah ketika ia mendapat pengalaman langsung yang berbeda.
Dari pengalaman itu, Betrand menunjukkan bahwa informasi awal yang ia dengar sebelumnya ternyata tidak utuh.
Toleransi untuk anak harusnya jadi prioritas
Betrand menempatkan toleransi sebagai inti. Ia tidak membahas soal debat teologis atau membanding-bandingkan ajaran.
Yang ia tekankan adalah bagaimana anak-anak diperlakukan. Bila anak dibuat stres, maka pelajaran toleransinya gagal total.
Betrand bahkan mengarahkan bahwa adik-adiknya yang masih harusnya dibimbing justru terkena dampak opini negatif.
Pesan ini terasa seperti protes halus namun tegas: jangan jadikan anak sebagai medan konflik.
Media sosial memperbesar masalah, tapi anak butuh ketenangan
Di tengah semua pembahasan, media sosial sering membuat persoalan makin luas. Orang-orang ikut menanggapi, lalu memunculkan versi versi baru yang sulit diverifikasi.
Betrand terlihat tidak ingin dirinya menjadi bahan debat publik. Ia menekankan bahwa ia dan adik-adiknya membutuhkan ruang yang aman.
Kalau isu terus dibesarkan, anak-anak bisa kehilangan ketenangan yang seharusnya mereka dapatkan dari lingkungan keluarga.
Betrand seakan mengingatkan: publik boleh berpendapat, tapi jangan menekan anak yang tidak ikut memilih.
Pesan “berbanding terbalik” jadi bukti bahwa narasi satu sisi tidak cukup
Bagian penting dari unggahan Betrand adalah kalimat bahwa setelah tinggal bersama Ruben, semua berbanding terbalik dengan yang ia dengar di lingkungan sebelumnya.
Pernyataan itu memberi sinyal bahwa narasi yang ia terima dulu bukanlah gambaran utuh.
Dengan kata lain, Betrand ingin menegaskan bahwa satu pihak tidak boleh mengklaim kebenaran mutlak, apalagi pada anak.
Pengalaman langsungnya membuktikan bahwa pemahaman sebelumnya tidak selaras dengan kenyataan.
Penutup: anak minta toleransi, bukan tekanan
Pada akhirnya, Betrand menutup unggahannya dengan nada yang mengarah pada kebutuhan anak: toleransi dan ketenangan.
Ia meminta agar tidak ada yang memaksa anak untuk stres hanya karena perubahan keyakinan ayahnya.
Ia juga meminta publik dan pihak terkait untuk melihat sisi anak—bukan hanya melihat isu besar yang sedang ramai.
Pesan Betrand menjadi pengingat bahwa keluarga tidak boleh jadi arena untuk menanamkan prasangka.
