China sering menjadi sorotan global karena beberapa wabah penyakit yang berasal dari sana, mulai dari pandemi COVID-19 hingga kasus terbaru Human Metapneumovirus (HMPV). Apa yang menyebabkan negara ini kerap dikaitkan dengan kemunculan virus baru? Yuk, kita bahas secara mendalam!
Faktor Geografi dan Populasi
China adalah salah satu negara dengan populasi terbesar di dunia, mencapai lebih dari 1,4 miliar jiwa. Kepadatan penduduk ini menciptakan interaksi manusia yang sangat dekat dengan hewan ternak maupun hewan liar.
Banyak wilayah di China, terutama selatan China, dikenal sebagai “mixing bowl” (wadah pencampuran) virus. Di sini, peternakan babi dan unggas sering berada dalam kondisi sanitasi yang buruk. Para petani juga menjual hewan-hewan mereka di pasar tradisional atau pasar basah, tempat berbagai jenis hewan, mulai dari burung, reptil, hingga mamalia, berkumpul dalam satu lokasi.
Pasar basah ini menjadi tempat ideal bagi virus untuk bermutasi dan berpindah spesies. Dari hewan, virus kemudian menyebar ke manusia, seperti yang terjadi pada COVID-19.
Budaya Konsumsi dan Kebiasaan
Selain faktor geografi, budaya masyarakat China juga menjadi salah satu alasan mengapa penyakit baru sering bermula dari sana. Banyak orang China lebih menyukai daging segar dibandingkan daging beku atau yang sudah diawetkan.
Menurut jurnalis Smithsonian, Melinda Liu, kebiasaan ini memicu interaksi langsung dengan hewan hidup, baik itu unggas maupun hewan eksotis lainnya. Hal ini menciptakan peluang besar bagi virus untuk berpindah dari hewan ke manusia.
Selain itu, saat terserang penyakit, masyarakat China sering kali mengandalkan pengobatan tradisional seperti herbal atau akupunktur, yang terkadang kurang efektif dalam menangani penyakit menular baru. Akibatnya, infeksi menyebar lebih luas sebelum wabah tersebut teridentifikasi secara medis.
Pandangan Ilmiah tentang Virus di China
Dr. Peter Daszak, seorang ahli ekologi penyakit dan Presiden EcoHealth Alliance, menyebut bahwa beberapa virus seperti SARS, COVID-19, hingga H5N1 kemungkinan besar muncul karena kontak dekat manusia dengan hewan di pasar basah. Virus-virus ini berkembang di dalam tubuh hewan, kemudian bermutasi secara cepat hingga akhirnya mampu menginfeksi manusia.
China juga menjadi lokasi ideal untuk perkembangan virus karena adanya interaksi beragam spesies hewan di tempat yang sama. Virus dari burung, babi, dan mamalia lainnya dapat saling bercampur dan menciptakan varian baru yang lebih berbahaya.
Human Metapneumovirus (HMPV): Apa yang Terjadi?
Kasus terbaru HMPV di China kembali menunjukkan pola serupa. Virus ini menyerang saluran pernapasan atas dan bawah, terutama selama musim dingin dan semi. Meski bukan virus baru—karena telah ada selama puluhan tahun—penyebarannya di China menjadi perhatian dunia.
Menurut Chinese Center for Disease Control and Prevention (CCDCP), HMPV kini menjadi salah satu penyebab utama infeksi pernapasan di China. Namun, protokol pelaporan dan verifikasi kasus sudah diterapkan untuk membatasi penyebarannya.
Bagaimana di Indonesia?
Hingga saat ini, kasus HMPV seperti di China belum terdeteksi di Indonesia. Namun, Indonesia pernah menghadapi kasus flu burung (H5N1) pada 2005-2017, yang juga berasal dari unggas. Oleh karena itu, pengawasan terhadap penyakit menular tetap menjadi prioritas di Tanah Air.
Pelajaran dari Wabah di China
China sering menjadi titik awal wabah karena perpaduan antara faktor lingkungan, kebiasaan budaya, dan kondisi pasar tradisional. Namun, ini bukan berarti penyakit hanya bisa berasal dari China. Faktor serupa dapat terjadi di wilayah lain yang memiliki kondisi serupa.
Kewaspadaan global, protokol kesehatan yang ketat, dan kerja sama internasional dalam mendeteksi wabah dini menjadi kunci untuk mencegah penyebaran penyakit baru. Mari kita tetap waspada dan menjaga kesehatan bersama!
