Kegagalan tim nasional Italia menembus Piala Dunia 2026 kembali menjadi pukulan telak bagi publik sepak bola mereka. Kekalahan dari Bosnia dan Herzegovina di babak play-off memastikan Gli Azzurri absen untuk ketiga kalinya secara beruntun dari ajang terbesar di dunia tersebut.
Hasil ini jelas bukan sekadar kekalahan biasa. Dalam beberapa tahun terakhir, Italia terlihat kesulitan menemukan identitas permainan yang stabil. Padahal, mereka dikenal sebagai salah satu negara dengan tradisi sepak bola kuat di Eropa.
Yang membuat situasi semakin kompleks, kegagalan ini justru memicu berbagai suara dari dalam negeri. Banyak pihak mulai mempertanyakan kondisi sepak bola Italia secara menyeluruh, mulai dari pembinaan hingga sistem kompetisi.
Tidak sedikit yang menilai bahwa masalah Italia bukan hanya terjadi di lapangan, melainkan sudah mengakar jauh lebih dalam.
Tuduhan Korupsi Muncul dari Mantan Pemain
Di tengah situasi panas tersebut, pernyataan mengejutkan datang dari mantan pemain akademi AC Milan, Federico Mangiameli. Ia mengungkap adanya dugaan praktik tidak sehat dalam sistem liga domestik Italia.
Menurutnya, ada praktik pembayaran untuk membantu pemain menembus level kompetisi tertentu, seperti Serie C. Nilainya bahkan disebut bisa mencapai puluhan ribu euro, angka yang tentu tidak kecil dalam dunia sepak bola muda.
Pengakuan ini sontak memancing reaksi publik. Banyak yang mulai mempertanyakan apakah sistem meritokrasi di Italia masih berjalan sebagaimana mestinya.
Jika benar, maka kualitas pemain yang muncul ke permukaan bisa jadi tidak sepenuhnya berdasarkan kemampuan, melainkan faktor finansial dan koneksi.
Sistem Kompetisi Dinilai Tidak Sehat
Lebih jauh, Mangiameli juga menyoroti kondisi klub-klub di Italia yang dianggap tidak lagi ideal untuk perkembangan pemain muda. Ia menyebut bahwa banyak keputusan dalam klub tidak sepenuhnya berada di tangan pelatih.
Situasi ini membuat proses pembinaan menjadi tidak optimal. Pemain muda kesulitan mendapatkan kesempatan jika tidak memiliki dukungan tertentu di luar aspek teknis.
Selain itu, dominasi pemain asing dengan bayaran tinggi di beberapa klub juga dianggap mempersempit ruang bagi talenta lokal. Hal ini secara perlahan berdampak pada regenerasi tim nasional.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka bukan hal mengejutkan jika Italia kesulitan bersaing di level internasional.
Dampak Nyata terhadap Prestasi Timnas
Kegagalan lolos ke Piala Dunia 2026 menjadi bukti nyata bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Italia kini harus menghadapi kenyataan pahit setelah sebelumnya juga absen pada edisi 2018 dan 2022.
Penurunan kualitas pemain menjadi salah satu faktor utama yang sering disorot. Tanpa sistem pembinaan yang sehat, sulit bagi tim nasional untuk membangun generasi baru yang kompetitif.
Kondisi ini tentu menjadi alarm bagi federasi sepak bola Italia. Reformasi menyeluruh tampaknya bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.
Jika tidak ada perubahan signifikan, bukan tidak mungkin Italia akan terus tertinggal dari negara-negara lain yang lebih cepat beradaptasi.
