Kolaborasi antara Swatch dan Audemars Piguet akhirnya resmi diperkenalkan ke publik, dan hasilnya langsung menciptakan gelombang besar di dunia horologi global. Produk bernama “Royal Pop” itu bukan sekadar rilisan jam tangan biasa, melainkan proyek eksperimental yang kini disebut-sebut sebagai salah satu kolaborasi paling berani dalam sejarah industri watchmaking modern.
Setelah sebelumnya sukses besar lewat MoonSwatch bersama Omega dan Scuba Fifty Fathoms bersama Blancpain, Swatch kembali memainkan strategi yang sama. Mereka mengambil nama besar dari kasta tertinggi horologi Swiss, lalu mengubahnya menjadi produk kultur pop yang bisa diakses pasar lebih luas. (gq.com)
Namun kali ini skalanya jauh lebih besar.
Pasalnya, Audemars Piguet bukan sekadar brand mewah biasa. AP adalah bagian dari “Holy Trinity” dunia jam tangan Swiss bersama Patek Philippe dan Vacheron Constantin. Royal Oak milik AP bahkan dianggap sebagai salah satu desain jam tangan paling legendaris sepanjang masa. (hodinkee.com)
Karena itulah, ketika nama AP muncul berdampingan dengan Swatch, internet langsung meledak.
Bukan Wristwatch, Tapi Jam Saku Futuristik
Banyak orang awalnya berharap kolaborasi ini akan menghasilkan “Royal Oak murah” dalam bentuk jam tangan biasa. Namun ekspektasi itu langsung dipatahkan saat produk resmi diperlihatkan.
Royal Pop ternyata hadir sebagai jam saku modern bergaya fashion wearable. Bentuknya tetap membawa DNA Royal Oak dengan bezel segi delapan dan desain industrial khas AP, tetapi dipasang pada lanyard kulit premium sehingga bisa dipakai seperti aksesori streetwear. (wired.com)
Langkah ini dianggap sangat cerdas.
Swatch dinilai sengaja menghindari pembuatan bracelet Royal Oak versi murah yang berpotensi merusak eksklusivitas AP. Sebagai gantinya, mereka menciptakan format baru yang terasa lebih artistik dan collectible.
Hasilnya adalah produk yang terlihat seperti gabungan antara luxury watch, fashion item, dan pop-art modern.
Delapan Warna dengan Filosofi Royal Oak
Royal Pop hadir dalam delapan varian berbeda. Angka delapan dipilih sebagai simbol penghormatan terhadap bezel oktagonal Royal Oak yang sudah menjadi identitas utama AP sejak 1972. (esquire.com)
Koleksi ini terbagi menjadi dua kategori utama:
Lépine
Versi ini tampil lebih minimalis dengan posisi crown di angka 12 dan hanya menggunakan dua jarum utama. Nuansanya clean, klasik, tetapi tetap playful lewat kombinasi warna yang berani.
Pilihan warnanya antara lain:
- Pink dengan bezel merah ceri
- Hijau neon
- Navy oranye
- Hitam putih monokrom
- Kombinasi pop-art lainnya
Savonnette
Versi ini jauh lebih kompleks. Crown dipindahkan ke posisi angka 3 dan ditambah subdial detik terpisah.
Dua warna Savonnette disebut sebagai varian paling panas karena tampil sangat mencolok dengan perpaduan pink, kuning, turquoise, dan aksen neon. Banyak kolektor sudah memprediksi model ini bakal menjadi “holy grail” dari seluruh lineup Royal Pop. (esquire.com)
Spesifikasi yang Dianggap “Terlalu Mewah” untuk Swatch
Meski memakai material Bioceramic khas Swatch, isi dari Royal Pop ternyata sangat serius.
Produk ini menggunakan movement mekanikal Sistem51 manual winding, bukan quartz biasa seperti banyak jam Swatch lainnya. Ini menjadi salah satu kejutan terbesar dari kolaborasi tersebut. (wired.com)
Beberapa spesifikasi yang telah dikonfirmasi media internasional antara lain:
- Mesin mekanikal hand-wound Sistem51
- Power reserve mencapai 90 jam
- Pegas anti-magnetik Nivachron
- Kristal safir depan dan belakang
- Exhibition caseback transparan
- Dial Petite Tapisserie ala Royal Oak
- Super-LumiNova bercahaya biru
- Ketahanan air 20 meter atau 2 bar (wired.com)
Banyak analis horologi menyebut spesifikasi tersebut terlalu premium untuk kelas harga Swatch.
Kristal safir misalnya, biasanya hanya ditemukan pada jam tangan mewah. Kehadiran detail seperti itu membuat Royal Pop terasa lebih eksklusif dibanding MoonSwatch.
Harga Resmi Masih “Masuk Akal”
Menurut data resmi yang dikutip Wired dan GQ, harga retail global Royal Pop adalah:
- USD 400 untuk versi Lépine
- USD 420 untuk versi Savonnette (gq.com)
Jika menggunakan kurs sekitar Rp16.300 per dolar AS, maka harga resminya berkisar:
- Rp6,5 juta
- Rp6,8 juta
Untuk ukuran produk hasil kolaborasi dengan Audemars Piguet, angka ini dianggap sangat murah.
Sebagai perbandingan, Royal Oak original dari AP memiliki harga mulai dari sekitar USD 28.000 atau setara Rp450 juta untuk model entry-level stainless steel. (audemarspiguet.com)
Harga Pasar Sekunder Diprediksi Tembus Rp30 Juta
Meski harga retail terlihat “murah”, situasi di pasar nyata diperkirakan bakal jauh berbeda.
Animo global terhadap Royal Pop sangat tinggi. Sejumlah toko Swatch di Amerika Serikat, Jepang, Singapura, dan Eropa dilaporkan sudah dipadati antrean bahkan sebelum hari peluncuran resmi. (houstonchronicle.com)
Fenomena ini mengingatkan publik pada kegilaan MoonSwatch tahun 2022 lalu.
Di Indonesia sendiri, komunitas kolektor dan reseller sudah mulai membuka jalur jastip dari Singapura dan Malaysia. Kota seperti Batam diprediksi menjadi salah satu titik transit utama masuknya Royal Pop ke pasar lokal.
Berdasarkan pola resale MoonSwatch dan prediksi komunitas horologi internasional, harga pasar sekunder Royal Pop diperkirakan berada di kisaran:
- Rp12 juta hingga Rp18 juta untuk model reguler
- Rp20 juta hingga Rp30 juta untuk warna paling langka
- Bisa lebih tinggi jika stok global ternyata sangat terbatas
Simbol Baru Kultur Hype Horologi
Terlepas dari pro dan kontra, Royal Pop berhasil membuktikan satu hal penting: industri jam tangan kini bukan lagi sekadar soal mekanisme dan fungsi waktu.
Ia telah berubah menjadi bagian dari kultur fashion, streetwear, dan collectible modern.
AP x Swatch Royal Pop mungkin bukan jam tangan yang sempurna untuk semua orang. Namun sebagai simbol budaya pop modern, kolaborasi ini sudah berhasil menjadi salah satu rilisan paling dibicarakan sepanjang tahun 2026.
Sumber data artikel ini berasal dari materi pengguna dan laporan media internasional terverifikasi.



















