Jakarta – Virus Nipah kembali menjadi perhatian masyarakat setelah sejumlah pakar kesehatan mengingatkan bahaya penyakit ini yang kerap terlambat dikenali. Penyakit yang disebabkan virus zoonosis tersebut dikenal memiliki tingkat kematian yang tinggi dan dapat berkembang dengan cepat, terutama ketika penanganan tidak dilakukan sejak awal. Salah satu tantangan utama dalam pengendalian Nipah adalah gejala awalnya yang samar dan sering disalahartikan sebagai penyakit ringan.
Ikatan Dokter Anak Indonesia atau Ikatan Dokter Anak Indonesia menegaskan bahwa kewaspadaan sejak munculnya demam awal menjadi langkah penting untuk mencegah komplikasi berat. Dalam berbagai kesempatan ilmiah, para dokter menilai rendahnya kesadaran masyarakat terhadap gejala awal menjadi faktor yang kerap memperburuk kondisi pasien.
Gejala Awal Kerap Tidak Dianggap Serius
Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Prof. Dr. Dominicus Husada, menjelaskan bahwa pada fase awal infeksi, virus Nipah sangat sulit dibedakan dari infeksi virus lain. Pasien umumnya datang dengan keluhan demam, sakit kepala, nyeri otot, mual, muntah, serta rasa tidak nyaman pada tubuh.
Menurut Dominicus, kondisi tersebut sering membuat pasien memilih beristirahat di rumah tanpa pemeriksaan lanjutan. “Keluhan awalnya mirip flu atau penyakit ringan, sehingga sering tidak dianggap serius,” ujarnya dalam sebuah webinar edukasi kesehatan. Padahal, virus Nipah dapat berkembang cepat dan menyerang organ vital dalam waktu singkat.
Keterlambatan mengenali gejala awal ini berisiko membuat pasien datang ke fasilitas kesehatan ketika penyakit sudah memasuki fase berat. Pada tahap tersebut, penanganan menjadi lebih sulit dan risiko kematian meningkat.
Ancaman pada Sistem Saraf Pusat
Seiring perkembangan penyakit, virus Nipah dapat menyerang sistem saraf pusat. Pada fase ini, pasien dapat mengalami gangguan kesadaran, kebingungan, kejang, hingga penurunan kesadaran secara drastis. Kondisi ini sering kali menjadi tanda bahwa infeksi telah berkembang menjadi ensefalitis atau radang otak.
Dominicus menjelaskan bahwa pasien dengan gangguan saraf dapat terlihat seperti orang linglung atau mabuk. “Jika virus sudah menyerang otak, pasien bisa tampak seperti orang mabuk, linglung, bahkan tidak sadar,” katanya. Ensefalitis akibat Nipah menjadi salah satu penyebab utama kematian pada kasus infeksi ini.
Gejala neurologis tersebut membutuhkan penanganan intensif di rumah sakit. Oleh karena itu, deteksi sebelum fase ini muncul menjadi sangat krusial.
Gangguan Pernapasan Dapat Muncul Mendadak
Selain menyerang sistem saraf, virus Nipah juga dapat memicu gangguan pernapasan. Pada sebagian pasien, infeksi paru berkembang dengan cepat dan menyebabkan sesak napas. Kondisi ini dapat memburuk dalam waktu singkat dan memerlukan bantuan pernapasan.
Dokter menilai bahwa kombinasi gangguan saraf dan pernapasan membuat Nipah menjadi penyakit yang sangat berbahaya. Tanpa penanganan cepat, risiko komplikasi berat dan kematian meningkat secara signifikan.
Semua Usia Berisiko Terinfeksi
IDAI menegaskan bahwa virus Nipah tidak hanya mengancam orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Meski jumlah kasus pada anak relatif lebih sedikit, risiko gejala berat tetap ada, terutama pada anak dengan daya tahan tubuh rendah atau memiliki penyakit penyerta.
Ketua Pengurus Pusat IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A., Subsp.Kardio(K), mengingatkan orang tua agar tidak menunda pemeriksaan medis jika anak mengalami demam yang tidak biasa. Demam yang disertai kejang, penurunan kesadaran, atau sesak napas perlu segera mendapatkan pertolongan tenaga kesehatan.
Ia juga menekankan pentingnya menyampaikan riwayat kontak dengan hewan, konsumsi makanan tertentu, serta paparan lingkungan kepada dokter. Informasi tersebut dapat membantu tenaga kesehatan melakukan penilaian risiko secara lebih akurat.
Kewaspadaan Dini Jadi Kunci Pencegahan
Para dokter sepakat bahwa kewaspadaan dini merupakan kunci utama untuk menekan risiko komplikasi dan kematian akibat virus Nipah. Pemahaman masyarakat mengenai tanda awal penyakit dinilai sama pentingnya dengan kesiapan fasilitas kesehatan.
Masyarakat diimbau untuk tidak meremehkan demam yang berlangsung lebih dari satu hingga dua hari, terutama jika disertai keluhan lain seperti sakit kepala berat, muntah berulang, atau perubahan perilaku. Pemeriksaan medis sejak dini dapat membantu memastikan diagnosis dan mempercepat penanganan.
Menjaga Kesehatan di Tengah Ancaman Penyakit Menular
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap virus Nipah, langkah menjaga kesehatan secara umum tetap menjadi fondasi penting. Kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan dengan sabun, menjaga kebersihan makanan, serta mengonsumsi makanan bergizi dapat membantu menjaga daya tahan tubuh.
Istirahat yang cukup dan pengelolaan stres juga berperan dalam menjaga imunitas. Selain itu, masyarakat disarankan untuk berhati-hati terhadap konsumsi buah atau makanan yang berisiko terkontaminasi, serta menghindari kontak langsung dengan hewan liar atau hewan yang tampak sakit.
Jika muncul gejala yang tidak biasa, konsultasi dengan tenaga kesehatan menjadi langkah paling aman. Kewaspadaan tanpa kepanikan dinilai sebagai sikap yang tepat dalam menghadapi potensi ancaman virus Nipah, sembari menunggu informasi resmi dan panduan kesehatan dari otoritas terkait.



















