Ketika Kisah Hidup Disesuaikan dengan Ekspektasi Publik
Dalam beberapa tahun terakhir, ruang publik dipenuhi cerita tentang perjuangan dari titik terendah. Banyak tokoh, figur publik, hingga profesional muda menekankan bahwa mereka “berangkat dari nol”. Narasi ini terdengar kuat, menyentuh, dan mudah diterima.
Namun di balik itu, muncul kecenderungan lain. Sebagian orang yang tumbuh dalam keluarga mapan justru mereduksi atau menyamarkan latar belakangnya. Kisah tentang akses pendidikan yang baik, dukungan finansial keluarga, atau lingkungan yang stabil tidak selalu diungkap. Sebaliknya, cerita tentang kesulitan lebih sering ditonjolkan.
Fenomena ini berkaitan erat dengan cara masyarakat memaknai keberhasilan.
Standar Moral yang Mengagungkan Penderitaan
Dalam kultur yang menekankan kerja keras, penderitaan sering dianggap sebagai bukti keaslian moral. Seseorang dinilai lebih layak dihargai jika ia melewati rintangan berat. Kesuksesan tanpa cerita sulit cenderung dipandang kurang dramatis.
Cara pandang ini tumbuh dari keyakinan meritokrasi, yaitu gagasan bahwa semua orang memiliki peluang yang sama dan hasil ditentukan oleh usaha. Dalam kerangka ini, narasi “nol” menjadi simbol bahwa keberhasilan diraih murni dari kerja keras pribadi.
Padahal, realitas sosial menunjukkan titik awal setiap orang berbeda. Ada yang sejak kecil memiliki akses sekolah berkualitas, dukungan keluarga yang kuat, serta jaringan relasi yang luas. Ada pula yang harus berjuang memenuhi kebutuhan dasar.
Ketika perbedaan ini tidak diakui, struktur ketimpangan menjadi kabur.
Privilese dalam Bayang-bayang Stigma
Meningkatnya kesadaran terhadap ketimpangan sosial membuat istilah privilese sering dibicarakan dengan nada kritis. Keuntungan awal tidak lagi dilihat sebagai bagian dari sistem sosial, melainkan kerap dipersonalisasi sebagai bentuk ketidakadilan.
Dalam situasi seperti itu, individu yang memiliki latar belakang mapan dapat merasa serba salah. Mengakui kenyamanan hidup sejak kecil berisiko ditafsirkan sebagai kesombongan. Ada kekhawatiran dicap tidak pantas atas pencapaian yang diraih.
Tekanan ini melahirkan rasa bersalah atas privilese. Sebagian orang lalu memilih menyamarkan kenyataan. Cerita tentang hidup sederhana atau penuh keterbatasan menjadi jalan aman untuk menjaga citra.
Padahal, menyederhanakan cerita hidup tidak menyelesaikan persoalan ketimpangan.
Mengapa Cerita Dramatis Lebih Disukai
Masyarakat cenderung tertarik pada kisah dengan konflik. Cerita tentang kemiskinan, perjuangan, dan keberhasilan yang diraih melalui rintangan berat lebih mudah menggugah emosi. Narasi seperti ini menghadirkan transformasi yang jelas.
Sebaliknya, kesuksesan dari kondisi stabil sering dianggap sebagai kelanjutan yang wajar. Tidak ada lompatan dramatis yang memicu simpati publik. Dalam logika komunikasi modern, kisah yang kurang konflik dianggap kurang menjual.
Namun, pola ini berisiko menciptakan standar sempit tentang keberhasilan. Seolah hanya ada satu jenis cerita yang layak dihargai.
Realitas yang Lebih Kompleks
Mobilitas sosial tidak pernah sesederhana hitam dan putih. Keberhasilan seseorang biasanya merupakan kombinasi dari usaha pribadi, dukungan keluarga, kesempatan, dan faktor struktural. Tidak ada pencapaian yang sepenuhnya berdiri sendiri.
Mengabaikan faktor struktur membuat diskusi publik kehilangan kedalaman. Ketika semua keberhasilan dikaitkan semata pada kerja keras individu, sistem yang memberi keuntungan awal pada sebagian orang tidak terlihat.
Sebaliknya, ketika privilese diperlakukan sebagai kesalahan moral, dialog juga menjadi tidak seimbang. Kehidupan yang stabil sejak kecil bukan pelanggaran etis. Ia adalah bagian dari distribusi sumber daya dalam masyarakat.
Merayakan dengan Kesadaran
Pertanyaan penting kemudian muncul. Apakah seseorang boleh mengakui dan merayakan privilese yang dimilikinya.
Secara sosial, jawabannya bergantung pada cara dan konteks. Mengakui adanya dukungan keluarga, akses pendidikan, dan modal sosial dapat menjadi langkah reflektif. Kesadaran ini justru membuka ruang empati terhadap mereka yang tidak memiliki akses serupa.
Perbedaannya terletak pada sikap. Jika pengakuan disertai kerendahan hati dan tanggung jawab sosial, ia dapat memperkuat solidaritas. Namun jika digunakan untuk menegaskan superioritas, ia berubah menjadi simbol dominasi.
Dengan demikian, persoalannya bukan pada privilese itu sendiri, melainkan pada ketidakpekaan terhadap ketimpangan.
Menuju Narasi yang Lebih Jujur
Fenomena pencitraan pernah hidup susah menunjukkan adanya tekanan norma yang mengagungkan penderitaan. Penderitaan menjadi modal simbolik untuk memperoleh pengakuan. Dalam konteks ini, individu menyesuaikan cerita hidupnya agar selaras dengan ekspektasi publik.
Namun, masyarakat membutuhkan narasi yang lebih jujur. Mengakui bahwa setiap orang memulai dari titik berbeda adalah langkah penting untuk memahami ketimpangan secara utuh. Dari sana, diskusi tentang keadilan dan kesempatan dapat dibangun di atas fakta, bukan mitos.
Keberhasilan tidak harus selalu dibungkus kisah ekstrem. Ia dapat hadir dalam bentuk kerja keras yang didukung lingkungan yang baik. Mengakui hal itu tidak mengurangi nilai usaha.
Pada akhirnya, percakapan tentang privilese bukan soal siapa yang paling menderita atau paling beruntung. Ia tentang bagaimana masyarakat memahami struktur sosial dan membangun tanggung jawab bersama. Dengan pendekatan yang lebih terbuka dan reflektif, dialog publik dapat bergerak dari sekadar citra menuju pemahaman yang lebih mendalam.



















