Jakarta — Pasar keuangan Indonesia mengalami tekanan besar pada akhir Januari 2026. Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG mencatat penurunan tajam sebesar 7,35 persen dan ditutup di level 8.320,55 pada perdagangan Rabu, 28 Januari 2026. Penurunan ini bahkan sempat menyentuh lebih dari 8 persen di tengah sesi kedua, sehingga memaksa Bursa Efek Indonesia menghentikan sementara perdagangan selama 30 menit.
Gejolak di pasar saham terjadi hampir bersamaan dengan lonjakan harga emas dan munculnya sejumlah isu kebijakan fiskal. Namun, berdasarkan pernyataan otoritas dan data yang tersedia, pemicu utama anjloknya IHSG berasal dari pengumuman terbaru Morgan Stanley Capital International atau MSCI.
Apa Itu MSCI dan Mengapa Penting
MSCI adalah perusahaan global penyedia indeks saham dan instrumen keuangan yang menjadi acuan investor institusi di seluruh dunia. Indeks MSCI digunakan oleh manajer investasi, dana pensiun, dan dana kelolaan pasif dengan nilai aset mencapai sekitar US$ 18,3 triliun.
Bagi pasar modal, MSCI berfungsi sebagai standar global. Negara atau saham yang masuk ke dalam indeks MSCI akan otomatis menjadi tujuan aliran dana global. Sebaliknya, perubahan metodologi atau status suatu negara dalam indeks MSCI dapat memicu penyesuaian portofolio investor dalam skala besar.
Indonesia selama ini masuk dalam kategori Emerging Market MSCI. Status ini menempatkan saham-saham Indonesia sejajar dengan negara berkembang lain seperti Malaysia. Posisi tersebut membuat pasar saham domestik menjadi bagian penting dari portofolio global.
Pengumuman MSCI dan Dampaknya ke IHSG
Pada akhir Januari 2026, MSCI mengumumkan pembekuan sejumlah penyesuaian indeks untuk saham Indonesia. Kebijakan ini mencakup pembekuan kenaikan Foreign Inclusion Factor dan Number of Shares, pembekuan penambahan konstituen baru ke dalam indeks, serta pembekuan perpindahan saham antarsegmen ukuran.
MSCI menyatakan langkah ini diambil untuk mengurangi risiko kelayakan investasi dan memberi waktu bagi otoritas pasar meningkatkan transparansi. Namun, MSCI juga membuka kemungkinan evaluasi ulang status Indonesia jika perbaikan tidak dilakukan hingga Mei 2026. Evaluasi tersebut dapat berujung pada penurunan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market.
Informasi inilah yang memicu kekhawatiran pasar. Investor menilai penurunan status dapat menyebabkan pengurangan bobot saham Indonesia dalam indeks global, sehingga berpotensi memicu arus keluar dana asing.
Panic Selling dan Peran Investor Ritel
Direktur Utama BEI, Iman Rachman, menyebut penurunan tajam IHSG dipicu aksi panic selling, terutama dari investor ritel. Menurut BEI, pembekuan rebalancing sering disalahartikan sebagai sinyal penghapusan saham Indonesia dari indeks MSCI, padahal dalam jangka pendek tidak ada perubahan komposisi saham.
Tekanan jual paling terasa pada saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi tulang punggung IHSG. Sejumlah saham bahkan menyentuh batas auto reject bawah, mempercepat penurunan indeks secara keseluruhan.
Respons Pemerintah dan Otoritas
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa anjloknya IHSG tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi. Pemerintah menyatakan optimistis persyaratan yang diminta MSCI dapat dipenuhi dalam beberapa bulan ke depan.
MSCI juga menyampaikan akan terus berkoordinasi dengan otoritas pasar Indonesia, termasuk Otoritas Jasa Keuangan, untuk memantau perkembangan dan menyampaikan langkah lanjutan bila diperlukan.
Isu Fiskal dan Persepsi Pasar
Di tengah tekanan pasar saham, perhatian investor juga tertuju pada rencana pembayaran iuran sukarela Indonesia ke Board of Peace yang nilainya diperkirakan mencapai Rp 16,7 triliun. Pemerintah menyatakan dana tersebut dapat bersumber dari APBN dan bersifat partisipasi, bukan kewajiban.
Hingga kini, belum ada data yang menunjukkan dampak langsung isu tersebut terhadap pergerakan IHSG. Namun, di tengah kondisi pasar yang sensitif, setiap informasi terkait fiskal cenderung memperkuat sikap hati-hati investor.
Lonjakan Harga Emas
Berbeda dengan pasar saham, harga emas justru melonjak tajam. Harga emas Antam 24 karat menembus rekor baru di atas Rp 3,1 juta per gram pada Kamis, 29 Januari 2026. Kenaikan harian mencapai Rp 165.000 per gram.
Lonjakan ini mencerminkan pergeseran dana ke aset lindung nilai. Dalam situasi ketidakpastian pasar saham, emas kerap menjadi pilihan investor untuk menjaga nilai aset. Pergerakan emas dan IHSG yang berlawanan arah memperkuat indikasi meningkatnya sikap defensif di pasar.
Kesimpulan
Berdasarkan seluruh data yang tersedia, kejatuhan IHSG pada akhir Januari 2026 terutama dipicu oleh sentimen dari pengumuman MSCI yang diperkuat aksi panic selling. Isu fiskal dan dinamika global ikut membentuk persepsi risiko, sementara lonjakan harga emas menunjukkan perpindahan dana ke aset aman.
Hingga saat ini, belum ada bukti yang dapat diverifikasi bahwa kejatuhan IHSG disebabkan oleh melemahnya fundamental ekonomi Indonesia. Arah pasar ke depan akan sangat ditentukan oleh tindak lanjut perbaikan struktural, komunikasi otoritas, dan hasil evaluasi MSCI pada pertengahan tahun.



















