Dunia kembali dibuat waspada setelah wabah hantavirus terdeteksi di kapal pesiar MV Hondius. Kasus yang melibatkan sejumlah penumpang lintas negara itu memicu pengawasan internasional karena beberapa pasien dilaporkan meninggal dunia dan sebagian lainnya masih dalam pemantauan ketat.
Perhatian publik langsung tertuju pada hantavirus, nama penyakit yang sebelumnya jarang terdengar dibanding COVID-19, flu burung, atau monkeypox. Namun di balik kepanikan yang mulai muncul, para ahli menegaskan satu hal penting. Hantavirus bukan virus baru.
Virus ini sudah ada sejak lama dan telah dikenal dunia medis selama puluhan tahun. Kasusnya memang relatif jarang, tetapi tingkat kematiannya cukup tinggi pada sebagian pasien dengan kondisi berat. Karena itulah, setiap kemunculan wabah hantavirus selalu langsung menjadi perhatian serius.
Kasus terbaru di MV Hondius dianggap unik karena melibatkan Andes virus, salah satu jenis hantavirus langka yang diketahui dapat menular antarmanusia dalam kondisi tertentu. Meski demikian, para peneliti menekankan penularannya tidak semudah virus pernapasan biasa.
Virus Lama yang Sudah Lama Dipelajari
Hantavirus pertama kali dikenal luas setelah muncul kasus misterius di kawasan Korea pada era 1950-an. Penelitian kemudian menemukan virus tersebut berkaitan erat dengan hewan pengerat, terutama tikus liar.
Nama “hantavirus” sendiri diambil dari Sungai Hantan di Korea Selatan. Dari sana, penelitian berkembang dan ilmuwan mulai menemukan berbagai jenis hantavirus lain di banyak negara.
Selama puluhan tahun, virus ini sebenarnya terus ada di alam dan hidup berdampingan dengan populasi tikus di berbagai wilayah dunia. Bedanya, sebagian besar kasus hanya muncul secara sporadis dan tidak berkembang menjadi wabah besar.
Karena itulah, hantavirus sering disebut sebagai ancaman tersembunyi yang muncul diam-diam.
Di Amerika Utara dan Selatan, hantavirus lebih sering menyerang paru-paru dan sistem pernapasan. Sementara di Asia dan Eropa, beberapa jenis hantavirus lebih banyak menyerang ginjal.
Tingkat bahayanya juga berbeda-beda tergantung jenis virus, kondisi pasien, dan kecepatan penanganan medis.
Kenapa Wabah di Kapal Pesiar Jadi Sorotan?
Kasus di MV Hondius langsung menarik perhatian global karena kapal pesiar merupakan lingkungan tertutup dengan interaksi antarmanusia yang sangat intens.
Penumpang makan bersama, menggunakan fasilitas umum yang sama, dan berada dalam ruang terbatas selama perjalanan panjang. Situasi seperti ini membuat otoritas kesehatan khawatir jika ada penyakit menular yang muncul di tengah pelayaran.
Namun yang paling membuat para ahli waspada adalah jenis virus yang ditemukan, yakni Andes hantavirus.
Berbeda dengan sebagian besar hantavirus lain yang hanya menular dari hewan ke manusia, Andes virus diketahui memiliki kemampuan terbatas untuk menyebar melalui kontak dekat antarmanusia.
Meski sangat jarang, kasus seperti ini pernah terjadi sebelumnya di Argentina dan Chile. Salah satu wabah paling terkenal terjadi pada 2018 di sebuah desa kecil di Argentina, ketika satu pasien tanpa sadar menularkan virus kepada banyak orang yang hadir dalam sebuah acara sosial.
Kasus itu menjadi titik penting yang mengubah pemahaman ilmuwan tentang kemampuan penularan Andes virus.
Berasal dari Tikus, Tapi Tidak Sesederhana Itu
Sebagian besar hantavirus menyebar melalui hewan pengerat yang terinfeksi. Tikus yang membawa virus biasanya tidak terlihat sakit, tetapi dapat menyebarkan partikel virus melalui urine, air liur, dan kotorannya.
Ketika kotoran atau urine tersebut mengering lalu bercampur dengan debu, manusia bisa terinfeksi saat menghirup partikel kecil di udara.
Karena itu, risiko tertinggi biasanya muncul di tempat tertutup yang jarang dibersihkan, gudang tua, bangunan kosong, area penyimpanan makanan, hingga lingkungan dengan populasi tikus tinggi.
Namun dalam kasus Andes virus, penularan antarmanusia diduga dapat terjadi lewat kontak sangat dekat dan berkepanjangan, terutama ketika seseorang berada dalam fase awal gejala seperti demam.
Itulah sebabnya otoritas kesehatan di berbagai negara kini berlomba melacak seluruh penumpang dan kru yang sempat berada di kapal pesiar tersebut.
Gejalanya Sering Dianggap Flu Biasa
Hal yang membuat hantavirus cukup berbahaya adalah gejala awalnya sering terlihat ringan dan menyerupai flu biasa.
Pasien umumnya mengalami demam, nyeri otot, sakit kepala, tubuh lemas, mual, hingga muntah. Sebagian juga mengalami batuk ringan dan nyeri perut.
Karena gejalanya umum, banyak orang tidak langsung menyadari bahwa mereka terinfeksi virus serius.
Pada kondisi tertentu, penyakit dapat berkembang cepat menjadi gangguan pernapasan berat. Paru-paru bisa dipenuhi cairan dan menyebabkan pasien kesulitan bernapas dalam waktu singkat.
Beberapa jenis hantavirus juga dapat menyerang ginjal dan memicu gagal organ.
Tingkat kematian penyakit ini tergolong tinggi dibanding banyak infeksi virus lain. Namun peluang sembuh meningkat bila pasien mendapatkan perawatan lebih awal sebelum kondisi memburuk.
Indonesia Juga Pernah Temukan Kasus
Hantavirus ternyata bukan hanya ditemukan di luar negeri. Indonesia juga pernah mencatat sejumlah kasus dalam beberapa tahun terakhir.
Jenis yang ditemukan di Indonesia berasal dari Seoul virus, salah satu anggota keluarga hantavirus yang umumnya ditularkan tikus perkotaan.
Kasus tersebar di beberapa provinsi dan sebagian pasien berhasil sembuh setelah menjalani perawatan medis. Otoritas kesehatan menilai risiko penyebaran luas di Indonesia masih rendah, terutama karena jenis Andes virus sejauh ini belum ditemukan.
Meski begitu, pengawasan tetap diperketat mengingat mobilitas internasional yang semakin tinggi membuat penyakit lintas negara dapat berpindah lebih cepat dibanding sebelumnya.
Dunia Kini Lebih Waspada
Wabah di MV Hondius menjadi pengingat bahwa ancaman penyakit menular tidak selalu berasal dari virus baru.
Sebagian penyakit lama yang sudah lama dikenal ternyata masih mampu memicu kekhawatiran global ketika muncul dalam situasi yang tidak biasa.
Para ahli menilai dunia kini jauh lebih sensitif terhadap wabah setelah pengalaman pandemi COVID-19. Setiap laporan penyakit menular baru langsung mendapat perhatian besar, terutama jika melibatkan perjalanan internasional dan potensi penularan lintas negara.
Meski WHO menilai risiko wabah hantavirus saat ini masih rendah untuk masyarakat umum, investigasi terus dilakukan untuk memastikan penyebaran dapat dikendalikan.
Sementara itu, berbagai negara kini memperkuat pelacakan kontak, pemantauan kesehatan penumpang, serta pemeriksaan laboratorium demi mencegah munculnya klaster baru di luar kapal pesiar tersebut.



















