Pemerintah akhirnya membatalkan rencana penerapan sekolah daring pada April 2026. Keputusan ini menutup wacana yang sempat berkembang, terutama terkait upaya efisiensi energi nasional. Di saat yang sama, pemerintah menegaskan bahwa pembelajaran tatap muka tetap menjadi pilihan utama demi menjaga kualitas pendidikan.
Langkah ini tidak berdiri sendiri. Ia lahir dari pengalaman panjang selama pandemi, ketika pembelajaran jarak jauh menjadi satu-satunya opsi. Pengalaman tersebut menyisakan banyak catatan, terutama terkait dampak pada anak.
Secara global, UNESCO mencatat lebih dari 1,5 miliar pelajar terdampak penutupan sekolah selama pandemi, termasuk puluhan juta di Indonesia . Skala gangguan ini belum pernah terjadi sebelumnya, dan dampaknya masih terasa hingga kini.
Learning Loss: Dampak yang Paling Terlihat
Istilah learning loss kini menjadi pusat perhatian dalam setiap diskusi pendidikan. Secara sederhana, ini adalah kondisi ketika kemampuan akademik siswa menurun akibat terganggunya proses belajar.
Sejumlah penelitian di Indonesia menunjukkan penurunan nyata. Studi pada siswa SMA menemukan kemampuan literasi sains berada di level rendah setelah periode pembelajaran daring, dengan rata-rata capaian hanya sekitar 44 persen . Penelitian lain juga mencatat bahwa learning loss terjadi di berbagai sekolah, tanpa memandang akreditasi .
Masalah ini bukan hanya soal nilai. Ini menyangkut fondasi belajar anak. Ketika dasar pemahaman melemah, dampaknya akan berlanjut ke jenjang berikutnya.
Dampak Psikologis dan Sosial yang Sering Terabaikan
Selain akademik, dampak lain muncul pada aspek mental dan sosial. Pembelajaran daring mengubah cara anak berinteraksi.
Data menunjukkan sebagian pelajar mengalami stres dan kelelahan mental akibat tekanan belajar berbasis layar. Bahkan, sekitar satu dari empat pelajar SMP hingga SMA dilaporkan mengalami kelelahan mental selama periode pembelajaran digital .
Interaksi sosial juga menurun. Anak kehilangan ruang belajar alami yang terjadi di kelas, seperti diskusi, kerja kelompok, hingga interaksi sederhana dengan teman. Dalam jangka panjang, ini memengaruhi kemampuan komunikasi dan empati.
Kementerian Pendidikan sendiri sebelumnya mencatat bahwa pembelajaran selama pandemi menyebabkan penurunan kualitas belajar, kesenjangan akses, serta risiko kesehatan psikologis bagi siswa .
Ketimpangan Akses: Masalah yang Belum Selesai
Salah satu masalah paling nyata dari sekolah daring adalah ketimpangan. Tidak semua siswa memiliki perangkat, jaringan internet, atau lingkungan belajar yang memadai.
Dalam banyak kasus, pembelajaran justru berpindah beban ke keluarga. Orang tua menjadi pendamping utama, meski tidak semua memiliki waktu atau kemampuan.
Akibatnya, muncul kesenjangan capaian belajar. Siswa dari keluarga mampu cenderung lebih siap, sementara yang lain tertinggal. Dalam jangka panjang, ini berpotensi memperlebar ketimpangan sosial.
Efisiensi Energi vs Efisiensi Pendidikan
Di sisi lain, wacana sekolah daring muncul dari kebutuhan nyata: efisiensi energi. Pengurangan mobilitas harian dinilai dapat menekan konsumsi bahan bakar dan operasional.
Namun, dalam konteks pendidikan, efisiensi tidak bisa hanya dihitung dari sisi biaya atau energi. Ada variabel lain yang jauh lebih penting, yaitu kualitas hasil belajar.
Jika pembelajaran daring menyebabkan penurunan kemampuan, maka penghematan jangka pendek bisa berujung pada kerugian jangka panjang. Sumber daya manusia yang kurang siap akan berdampak pada produktivitas nasional.
Dalam perspektif ini, keputusan pemerintah menjadi lebih mudah dipahami. Pendidikan tidak bisa disederhanakan menjadi hitungan efisiensi teknis.
Apakah Daring Tidak Lagi Relevan?
Jawabannya tidak. Pembelajaran daring tetap memiliki tempat dalam sistem pendidikan modern.
Dalam situasi tertentu, seperti bencana atau kondisi darurat, metode ini menjadi solusi penting. Selain itu, teknologi juga membuka peluang akses pendidikan yang lebih luas.
Namun, pengalaman menunjukkan bahwa penerapan daring secara penuh belum siap dilakukan secara merata. Infrastruktur, kesiapan guru, hingga desain kurikulum masih menjadi tantangan.
Model yang lebih realistis adalah kombinasi atau hybrid. Namun, pendekatan ini harus dirancang dengan matang, bukan sekadar membagi waktu antara online dan tatap muka.
Catatan dari Perspektif Jurnalisme Lapangan
Dalam liputan pendidikan selama bertahun-tahun, satu hal selalu terlihat jelas. Kebijakan pendidikan yang berhasil bukan yang paling cepat, tetapi yang paling tepat.
Sekolah bukan hanya tempat belajar materi. Ia adalah ruang tumbuh. Di sana anak belajar disiplin, tanggung jawab, dan cara hidup bersama orang lain.
Ketika pembelajaran dipindahkan ke layar, sebagian fungsi ini ikut hilang. Ini bukan asumsi, tetapi kenyataan yang terlihat selama pandemi.
Keputusan membatalkan sekolah daring pada April 2026 menunjukkan bahwa pemerintah mulai membaca realitas tersebut. Ini bukan penolakan terhadap teknologi, tetapi penegasan bahwa pendidikan memiliki batas yang tidak bisa digantikan sepenuhnya oleh sistem digital.
Ke depan, tantangannya bukan memilih antara daring atau luring. Tantangannya adalah menemukan keseimbangan yang tidak mengorbankan kualitas belajar anak.
Karena pada akhirnya, pendidikan bukan soal metode. Ia soal hasil. Dan hasil itu akan menentukan arah masa depan.



















