Keputusan Besar di Tengah Kehidupan Selebriti
Jakarta — Keputusan Dea Annisa, yang kerap disapa Dea Imut, menunda rencana pernikahan menarik perhatian publik. Bukan karena ia menutup diri dari kemungkinan membina rumah tangga selamanya, melainkan karena pilihan itu lahir dari tanggung jawab keluarga yang tak bisa ditawar. Setelah ayahnya meninggal, peran dan beban keluarga berpindah pada Dea—sebuah kenyataan yang membuatnya menata ulang prioritas hidup secara serius.
Ibu Dea, Masayu Chairani, menceritakan kondisi itu ketika berbincang di kanal YouTube DMITV. Menurut Masayu, Dea selalu menunjukkan sikap dewasa: pulang setelah syuting dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga dibandingkan larut dalam kehidupan malam. Sikap sederhana itulah yang menguatkan keputusan untuk menunda pesta pernikahan demi menyelesaikan tanggung jawab keluarga terlebih dahulu.
Keputusan ini bukan soal pengorbanan dramatis yang ingin dipamerkan, melainkan tindakan penuh perhitungan. Dea memilih menyelesaikan urusan finansial dan memastikan pendidikan adik‑adik tuntas sebelum melanjutkan ke jenjang berikutnya. Bagi keluarga, prioritas semacam ini penting supaya kehidupan rumah tangga kelak dimulai dengan kondisi yang lebih stabil.
Reaksi publik bermacam‑macam: ada yang memuji kedewasaan Dea, ada pula yang bertanya soal rencana masa depannya. Namun bagi keluarga, yang terpenting adalah dukungan dan kebersamaan menghadapi fase sulit itu.
Gaya Hidup Sederhana dan Kedekatan Keluarga
Masayu sempat menyinggung betapa berbeda rutinitas Dea dibanding teman sebayanya. Ketika banyak anak muda menikmati malam minggu di klub atau pub, Dea lebih sering memilih ngopi santai di kafe bersama keluarga atau langsung pulang untuk berkumpul di rumah. “Kalau saya lihat anak-anak seumur Dea ya, ketika masih masa transisi itu pasti … ke pub ya, tapi anakku alhamdulillah gak pernah,” ujar Masayu.
Kebiasaan pulang setelah syuting ini bukan sekadar soal disiplin, melainkan pilihan nilai: keluarga menjadi prioritas. Di momen‑momen sulit setelah kehilangan ayah, kehadiran Dea sebagai anak yang selalu pulang membawa ketenangan bagi ibu dan adik‑adiknya. Kehadiran emosional semacam itu sering kali lebih bernilai dibanding bantuan materi semata.
Bagi Dea, waktu bersama keluarga menjadi kesempatan untuk menenangkan hati dan merancang masa depan bersama. Kebiasaan sederhana ini menunjukkan komitmen yang tak banyak tampak di media hiburan, sehingga kisahnya mendapat apresiasi dari penggemar dan masyarakat.
Menopang Pendidikan Adik‑adik hingga Tuntas
Salah satu beban nyata yang dipikul Dea adalah membiayai pendidikan adik‑adiknya. Masayu mengungkapkan bahwa setelah ayah mereka meninggal, Dea turun tangan menanggung biaya sekolah hingga para adik selesai menempuh pendidikan. “Dia tanggung jawab sama kakak‑kakaknya sampai selesai. Sampai tahun kemarin adiknya selesai (sekolah) itu Dea yang biayain,” tutur Masayu.
Peran ini bukan hanya soal uang; Dea juga menjadi motivator dan penopang moral bagi adik‑adik yang sedang menapaki sekolah. Menjaga kestabilan finansial dan memberi semangat belajar menjadi dua pekerjaan yang dijalankan Dea secara bersamaan. Tidak mudah mengatur waktu antara pekerjaan di dunia hiburan dan tanggung jawab rumah tangga, tetapi Dea terlihat gigih mengatur semuanya.
Menunda pernikahan pun menjadi strategi praktis: dengan menunda, ia dapat memusatkan sumber daya keluarga untuk kebutuhan pendidikan dan pemulihan. Keputusan ini menunjukkan pandangan jangka panjang—memastikan adik‑adik mendapat landasan yang kuat agar kelak bisa mandiri.
Dukungan Keluarga dan Lingkungan Sekitar
Penundaan rencana pernikahan Dea mendapat dukungan dari keluarga dan kerabat dekat. Fida, salah seorang kerabat, mengakui bahwa keputusan itu memang hasil pertimbangan matang bersama. Keluarga menilai bahwa menata ulang prioritas di masa sulit ini adalah langkah bijak demi masa depan yang lebih stabil. Dukungan moral semacam itu menjadi penopang kuat bagi Dea untuk terus melangkah.
Publik pun banyak yang memberi pujian. Di media sosial, netizen memberikan komentar yang sebagian besar positif—memuji kedewasaan dan komitmen Dea terhadap keluarganya. Ada juga yang mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak selalu harus dipercepat; menunda kadang berarti memberi ruang agar segala urusan tuntas lebih dulu.
Secara profesional, Dea tetap aktif bekerja. Ia berusaha menjaga keseimbangan antara karier dan tugas keluarga agar kedua sisi bisa berjalan harmonis. Cerita ini mengingatkan bahwa di balik sorotan kamera, ada nilai‑nilai keluarga yang menguatkan pilihan hidup seseorang.



















